Ged a Widget

Selasa, 18 Desember 2012

Ketegaran Hidup Mas Rohmad sebagai Mahasiswa Difabel

Sebuah Kisah Nyata untuk Hari Difabilitas Internasional 3 Desember 2012
LOMBA BLOG HIPENDIS 2012



Kini ku terpasung dalam sebuah tekanan

Tekanan yang tak terlihat oleh siapa pun

Dan hanya hati yang merasa terluka

Bukan daging  yang tersayat merah

Hanya air mata yang menetes bukan darah yang mengalir

Ku ingin berlari dari semua ini

Tapi kemana....

Ke lautan kah? Namun ku tak punya sirip

Ke angkasa kah? Namun ku tak punya sayap

Ku hanya mam pu berteriak aaaa...

Dan terdiam



(Kepedihan, karya Rohmad Dwi Saputro)


Puisi di atas adalah satu dari beberapa notes yang berasal dari sahabat saya, namanya Rohmad Dwi Saputro. Saya dan teman-teman akrab memanggilnya dengan Mas Rohmad. Mas Rohmad adalah sahabat baru saya sejak kuliah di Jurusan Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Yogyakarta. Dia lahir di Bantul, 31 Oktober 1991. Dia saat ini tinggal di daerah Bawuran, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul.
 

Kisah hidup Mas Rohmad mungkin agak mirip dengan Bill Porter. Kawan-kawan pernah menonton film true story berjudul ‘Door to door’ ? Kisah nyata dari Bill Porter sangat menyentuh karena keterbatasannya sebagai penderita Cerebral Palsy atau Layuh Otak. Bill Porter, hampir tidak bisa menggerakan tangan kananya. Ahli medis menduga ia mengalami keterbelakangan mental dan menyarankan kepada orangtuanya untuk memasukkannya ke dalam rumah sakit mental. Orang tuanya menolak dan mendorong Bill untuk hidup mandiri hingga menyelesaikan sekolah menengah.  Bill berkali-kali mengalami penolakan dari perusahaan tempat dia melamar. Hampir tidak pernah lebih dari 7 hari bekerja, Bill dinyatakan tidak dapat dipekerjakan. Bill bersikeras tidak ingin mendapat tunjangan dari pemerintah sebagai orang tidak mampu. Akhirnya Bill mendapatkan kesempatan bekerja untuk Watkins-perusahaan di US setelah berhasil meyakinkan sang direktur. Bill menjual produk rumah tangga dari pintu ke pintu di sebuah wilayah yang hampir tidak ada orang mau membelinya. Pada akhirnya Bill memutuskan bidang penjualan adalah karirnya. Kegigihan Bill dalam bekerja di Watkins Company membuktikan bahwa difabilitas bukan halangan untuknya. Dia mampu menaklukan wilayah tersebut dan mendapat pelanggan. Bill bekerja hingga usia 70 tahun di perusahaan Watskin dan mendapat julukan “The Watskin Man”, dan pernah mendapat kesempatan menjual barang-barang rumah tangga untuk mengumpulkan dana bagi United Cerebral Palsy. Seperti Bill Porter, Mas Rohmad adalah seorang mahasiswa yang hidup dalam garis keterbatasan. Difabilitasnya sebagai penyandang tunadaksa membuatnya harus bersabar dalam menghadapi kerasnya hidup.  

 

Kini hidup Mas Rohmad yang mengidolakan Andrea Hirata ini tergolong dalam kelompok minoritas. Ya, menjadi manusia dalam  garis yang seakan berbeda dengan orang-orang di luar garis. Sebuah kehidupan yang menanggung rasa berkecil hati karena berbeda dengan yang lainnya. Ya menjadi kaum difabel, kaum yang mempunyai kemampuan berbeda, kaum yang sulit untuk dipercaya kaum dan terlupakan bahkan kadang dihina. Mas Rohmad hanya mampu menghela nafas. Dia  menjadi seperti ini tidak sejak kecil melainkan sejak kelas enam dimulai dari sebuah luka yang dokter menfonis itu sebagai akibat dari infeksi otak bagian kanan sehingga organ bagian kirinya tidak bebas digunakan. Seakan berat menghadapi hidup yang seperti ini, bahkan waktu SMP Mas Rohmad sempat dihina dan dikerjain sama temannya, dan Mas Rohmad hanya dapat terdiam dan menangis, namun tidak di depan teman-teman. 
Waktu pun terus berlalu, dia mencoba ku pertahan kan hidup ini walau   dalam belenggu derita. Akhirnya, berlahan lahan  es itu pun mulai mencair di hatinya, terasa indah hidup ini setelah ia lewati masa SMA yang penuh dengan kenangan indah bersama teman-teman yang mau menghargai dan menyayanginya, yang tak mungkin ia sebut nama  mereka satu persatu.
Kini Mas Rohmad mulai menginjakan kaki di perkuliahan, mulai saya sadari bahwa ada sesuatu yang luar biasa di dalam  dirinya, seiring perjalanan saya  di perkuliahan bersama. Saya lihat mas Rohmad adalah sosok yang pintar, kritis, dan sama dengan mahasiswa pada umumnya. Jiwanya yang tegar dalam menjalani hidup adalah sebuah nyawa untuknya. Saya pun merasa malu, ketika saya yang diberikan kesehatan utuh oleh Allah tidak bisa bersemangat menikmati hidup seperti Mas Rohmad. Sahabat saya ini mempunyai moto “Hidup adalah Anugerah” yang patut kita teladani. Banyak bersyukur ketika Tuhan memberikan segala nikmatnya. Banyak bersyukur ketika masih ada orang lain yang peduli dengan kita.
Kehangatan yang kami rangkai dalam persahabatan ini adalah semata-mata rasa hormat kita sebagai sesama manusia. Saya, Mas Rohmad, dan kawan-kawan mahasiswa lainnya berhak untuk menjadi seorang yang berguna bagi orang lain, termasuk menjadi pendidik. Berikut adalah penggalan kata-kata dari Mas Rohmad yang tertulis dalam biodata kelas saya.
Hidup ini penuh tantangan,mengejar mimpi untuk menunjukan siapa diri ini. Mengelilingi dunia mencari  arti hidup. Menangis di tengah malam. Bangun di pagi hari untuk melihat bintang. Berlari mencari cinta untuk melengkapi hidup ini.Bintang bersinar bukan untuk dirinya sendiri namun untuk seorang anak yang takut akan kegelapan,d an kini dia meneteskan air mata mencari teman, bermimpi akan adanya teman untuk menemaninya di setiap waktu. Mencari sesuatu yg luar biasa. Bermimpi menjadi sesuatu yang berarti. Hidup yang kadang ada suka dan kadang ada duka, tak dapat aku katakan apapun tentang hidup ini kecuali “Teruskan perjalanan hidup ini. Pencarian jati diri yg harus menempuh berbagai rintangan dan aku tidak mau meminta sampai mengemis, aku bukan orang yang lemah. Oke cukup ya, thanks atas persahabatannya.”
Dengan sedikit penggalan kisah ini, saya banyak belajar dari keteladanan Mas Rohmad yang meski dalam keterbatasan fisik tetapi mempunyai cita-cita yang tinggi sebagai ahli BMKG, sebuah pengabdian yang sangat luar biasa. Saya bersama kawan-kawan tentunya selalu mendoakan apa yang terbaik untuknya.



Yogyakarta, 18 Desember 2012

di Ruang Kuliah G01 208

3 komentar:

  1. Bagus, menyentuh dan mempunyai pesan positif! :)

    BalasHapus
  2. keren jan, pernah nonton filmnya yg versi jepang. luar biasa usahanya. salut juga buat mas rohmad :D moga2 tercapai cita2nya. so inspired :)

    BalasHapus
  3. terimakasih teman-teman, mas Rohmad kini selalu semangat kuliah lho, ayo kita contoh :)

    BalasHapus