Ged a Widget

Senin, 10 Desember 2012

Indahnya Bermimpi

Senin pagi yang penuh inspirasi. Salam hangat dari Janu untuk dunia pagi ini :) Sebelum kuliah jam 7 ini, saya ingin berbagi kisah dari web http://ppibelanda.org/node/indahnya-bermimpi. Ini merupakan tulisan karya mas Reonaldus Paembonan, Penerima beasiswa Studeren in De Nederlanden (StuNed) Master in Environmental Science, Wageningen University. Berikut kisah selengkapnya :)


 
Mimpi adalah kunci bagi kita untuk taklukkan dunia. Saya suka dengan penggalan kata-kata dari sound track Laskar Pelangi itu. Penggalan kata-kata yang mengajak kita untuk bermimpi dan secara eksplisit untuk menaklukan dunia. Kuliah di luar negeri, terutama Eropa, adalah sebuah mimpi yang sangat besar. Sejak kecil, saya ingin ke eropa. Terima kasih kepada orang tua saya, walaupun dengan keadaan ekonomi yang ngepas, mereka memanjakan saya dan kakak saya dengan majalah, koran dan komik-komik. Dari bahan bacaan itu, terutama tabloid Bola, saya ingin ke Eropa. Awalnya sih memang ingin ke kota-kota yang ada klub sepak bola besarnya seperti Milan, Roma, Madrid, Machenster dan Amsterdam.
 
Berlin, saya ingin sekali ke Berlin setelah menonton film Band of Brothers.
 
Keinginan itu semakin kuat saat saya kuliah. Sepertinya keren kalau kuliah atau ke luar negeri. Saya pernah mencobanya tahun 2004. Saat itu, saya ingin mengikuti pertemuan IFSA (International Forestry Students Association) di Australia. Namun, rencana itu gagal. Keinginan kuliah di luar sempat tertunda karena kesibukan pekerjaan. Tapi, bekerja sebagai wartawan membuat saya semakin termotivasi untuk kuliah di luar negeri. Wartawan harus memiliki wawasan yang luas karena dia memiliki fungsi edukasi. Punya tanggung jawab terhadap kemajuan bangsa dan terkhusus pembacanya. Kuliah di luar, bisa membuka wawasan saya terhadap banyak hal.
Yang kedua, wartawan itu pendapatannya kecil, godaannya besar dan ancamannya besar. Dari cerita mereka yang pernah mendapatkan beasiswa, uang beasiswa lumayan untuk ditabung. Bagi saya pribadi, tabungan ini menjadi modal bagi saya untuk patuh dalam etika kejurnalismean. Dengan kedua motivasi itu, jadilah saya bolak-balik Tenggarong-Samarinda (sekitar 45 kilo) tiga kali seminggu untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris saya.

Mewujudkan mimpi itu memang tak mudah. Pekerjaan yang paling sulit adalah meyakinkan diri kita bahwa kita mampu mewujudkan mimpi itu. Saya kira, banyak orang yang gagal meyakinkan diri mereka bahwa mereka mampu. Belum lagi jika mendengar ocehan-ocehan orang sekitar yang kadang meremehkan mimpi atau niat kita. Saya pribadi kadang berkecil hati jika melihat pelamar beasiswa berasal dari universitas-universitas besar seperti ITB, UGM, UI dan IPB. Maklum, saya berasal dari universitas di Kaltim yang jika dibandingkan dengan universitas-universitas itu tampak kecil. Itu juga yang membuat beberapa rekan akhirnya mundur untuk mengajukan aplikasi beasiswa. Jujur, kadang saya bersyukur dengan keadaan ini karena dengan begitu pesaing saya berkurang.
 
Di ajarin tambal ban sama teman sekoridor.

Saya kira, untuk menaklukkan rasa takut itu dan meyakinkan diri kita, kita harus punya alasan atau motivasi yang kuat mengapa kita harus kuliah di luar negeri atau mencari beasiswa. Apa manfaatnya? Apa yang kita cari? dan lain-lain. Alasan-alasan itulah yang akan memaksa kita untuk fight. Mengapa? Karena untuk meraih beasiswa banyak sekali pengorbanan yang akan kita keluarkan. Begitu juga saat menjalani kuliah di luar negeri. Dinginnya eropa, budaya yang berbeda, putus dengan pacar, dan persoalan-persoalan lainnya adalah hal yang harus kita hadapi. Jika kita tahu mengapa kita harus kuliah di luar negeri, mudah-mudahan itu bisa membuat kita kuat dalam menghadapi tantangan dan persoalan itu. Karena kita tahu ada segudang hal positif yang akan kita dapatkan jika kuliah di luar negeri dan mendapatkan beasiswa. Dan yakinlah, banyak orang-orang yang siap membantu untuk mewujudkan keinginan mendapatkan beasiswa.

Namun, itu tidak mudah, kita harus sungguh-sungguh. Saya setuju dengan kutipan dari Novel Negeri 5 Menara, Man Jadda Wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil

Sekarang, saya seperti bangun dari mimpi indah saya. Saya kadang tersenyum jika ingat masa-masa sulit untuk mendapatkan beasiswa. Juga jika ingat saat bersepeda menembus salju, bermain bola dengan teman-teman, gagal saat ujian, keliling eropa, tidur di toilet Arnhem, dan hal-hal lainnya. Dan sepertinya, bermimpi itu memang menyenangkan. Saat ini, saya ingin bermimpi lagi untuk ke atau menjadi… apa ya.. he..he.. :)

Selamat bermimpi !!
Foto hari pertama di Wageningen bareng teman-teman penerima beasiswa
 
Semoga bisa bermanfaat untuk lebih memotivasi saya dan Anda sekalian :)
 
Sumber : ppibelanda.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar