Ged a Widget

Minggu, 16 Desember 2012

Esai : Membangun Karakter Pelajar Indonesia Melalui Mentoring

          Pelaksanaan sistem pendidikan di Indonesia telah dicemari perilaku buruk para pelajar pada tahun 2012 ini. Tawuran antara siswa pelajar SMA 6 dan SMA 70 pecah di Bunderan Bulungan, Jakarta Selatan pukul 12.20 WIB pada hari Senin, 24 September 2012. Korban tewas satu orang, yaitu Alawy, siswa kelas X SMA 6 yang tinggal di Larangan, Ciledug Indah. Dia mendapat luka tusuk di bagian dada. Alawy sempat dilarikan ke Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring, Jakarta Selatan, tetapi meninggal tidak lama sesampainya di sana. Polisi menemukan sebuah celurit di lokasi yang diduga sebagai alat untuk menewaskan korban. Inilah satu potret peristiwa yang sempat menggemparkan masyarakat Indonesia. Tawuran pelajar telah berakibat fatal karena memakan korban jiwa. Wajah pemerintah kini dipertanyakan. Apakah ada yang tidak beres dengan sistem pendidikan negeri ini ? Ataukah ini sebagai bentuk degradasi karakter pelajar Indonesia ? Untuk mengantisipasi agar peristiwa ini tidak terulang kembali, perlu ada solusi pembangunan karakter dan pembenahan moral pelajar di Indonesia sejak dini.
Menurut hemat penulis, langkah yang bisa ditempuh untuk mengatasi masalah di atas adalah dengan mengadakan pembinaan kembali karakter dan jati diri pelajar (character and national building). Simon Philips berpendapat dalam buku Refleksi Karakter Bangsa (2008: 235), karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan. Pendapat lain berasal dari Doni Koesoema A (2007: 80) yang menganggap bahwa karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga  pada masa kecil dan juga bawaan seseorang sejak lahir.” Sedangkan menurut Zamroni dalam buku Pendidikan Karakter (2011: 158), “Karakter merupakan suatu pondasi kehidupan bangsa. Karakter bagi suatu bangsa memiliki fungsi memberikan arah kemana bangsa harus menuju, bagaimana cara mencapai tujuan itu, apa yang harus dikaji dan dipegang teguh-teguh dan sebaliknya apa yang harus dihindari dan dibuang jauh-jauh.”    
      Dalam hal ini, dunia pendidikan formal tentu menjadi posisi yang strategis untuk mengambil peran terebut karena akibat semakin kompleksnya tuntutan modernitas, keluarga yang awalnya menjadi sarana pendidikan utama dan pertama telah mengalami pergeseran peran. Pendidikan formal di sekolah akhirnya menjadi tumpuan harapan untuk solusi permasalahan ini. Di ranah Sekolah Menengah Atas adalah waktu yang efektif untuk mengadakan pembinaan kembali karakter, moral, dan jati diri peserta didik. Pembinaan karakter ini menjadi begitu penting karena anak ataupun remaja adalah harapan untuk generasi bangsa. Di samping itu, pentingnya pendidikan yang berbasis karakter adalah suatu pondasi kuat untuk mencetak pemimpin bangsa. Dengan kata lain, pembinaan pendidikan berbasis karakter pada jenjang Sekolah Menengah Atas menjadi sesuatu yang urgent dan perlu untuk dilaksanakan.
Contoh program pemerintah untuk membangun karakter pelajar Indonesia adalah dengan diadakannya Mentoring. Menurut Muhammad Ruswandi dalam buku Manajemen Mentoring : “Mentoring merupakan salah satu sarana tarbiyah Islamiyah (pembinaan Islami) yang di dalamnya ada proses belajar. Orientasi dalam mentoring itu sendiri adalah pembentukan karakter dan kepribadian Islami (syakhsiyah islamiyah)” (Ruswandi. 2007: 1). Program Mentoring ini sebenarnya sudah diterapkan di beberapa kota, misalnya Yogyakarta dan Bandung. Mentoring merupakan sebuah program pendampingan peserta didik dalam suatu kelompok yang terdiri dari 6-10 orang dengan seorang tutor. Mengapa dengan Mentoring ? Dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 25 Allah berfirman yang artinya : “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” Dari ayat tersebut dijelaskan bahwa orang yang beriman dan berbuat baik akan disediakan surga. Kepribadian baik inilah yang dibangun untuk siswa melalui mentoring. Mentoring terwujud dengan adanya forum diskusi antara mentor (pemandu) dan mentee (pelajar). Selanjutnya, akan timbul satu diskusi hingga sesame mentee diajarkan untuk saling menasihati dalam kebaikan.
Pembentukan karakter pelajar Indonesia merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional antara lain mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia. Menurut Suyanto (2009) pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu juga pernah dikatakan Martin Luther King, yakni; intelligence plus character…that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter…adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya). Karena itu, pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Pendidikan karakter bisa dimulai dari keluarga hingga lingkup pendidikan formal yaitu sekolah.
Sejalan dengan visi mentoring untuk membentuk insan manusia dengan kepribadian dan gaya hidup baik, juga terkandung visi pembangunan karakter pelajar. Menurut Ajat Sudrajat (2011: 140) menyebutkan adanya sepuluh nilai utama  yang bisa ditanamkan oleh pihak sekolah, yaitu : kebijaksanaan (wisdom), keadilan (justice), daya tahan (fortitude), control diri (self control), cinta (love), sikap positif (positive attitude), kerja keras (hard works), kepribadian yang utuh (integritiy), perasaan berterima kasih (gratitude), dan kerendahan hati (humility).  Penguatan terhadap pembudayaan karakter yang baik di sekolah dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya dengan Mentoring. Selain itu, kebijakan mengenai aturan atau tata tertib sekolah adalah menjadi acuan pokok pembangunan karakter pelajar Indonesia di sekolah masing-masing Dengan demikian, Mentoring merupakan alternatif solusi pembangunan karakter sejak dini dan akan membentuk generasi masa depan yang cerdas, bermoral, dan beretika.

Penulis :
Janu Muhammad
Email      : janu.muhammad2@gmail.com 
Blog        : www.muhammadjanu.blogspot.com & www.tentanggeografi.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar