Ged a Widget

Minggu, 16 Desember 2012

Esai : Karakter Tidak Jujur Cerminan Penyakit Korupsi di Sekolah

Persoalan korupsi di Indonesia terkategori kronis, bukan hanya membudaya melainkan telah membudidaya. Korupsi adalah penyakit menular yang mudah menyerang setiap orang. Korupsi bagaikan virus H5N1 yang sampai kini belum ditemukan vaksinnya. Korupsi di Indonesia kini sudah menjamur, dari kalangan bawah sampai elit penguasa negeri pernah menjadi pelakunya. Penyakit ini berawal dari hal sepele yaitu karakter tidak jujur yang melekat pada diri manusia. Akibatnya, negara Indonesia mengalami kerugian besar. Hutang ke luar negeri sudah menjadi hal yang wajar. Kekayaan negara hanya masuk ke kantong orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Untuk mengatasinya, diperlukan langkah khusus agar bibit-bibit penyakit korupsi bisa diberantas, mulai dari akar sampai ujungnya. 

Fakta menunjukkan, bahwa perilaku jujur di kalangan pelajar masih sangat minim. Hal ini bisa kita lihat masih banyaknya siswa yang menyontek ketika pelaksanaan ujian nasional maupun ulangan harian. Cara-cara instan seperti menyontek adalah sebuah korupsi kecil yang jika dibiarkan akan tumbuh menjadi korupsi besar. Pertanyaannya adalah : apakah seorang guru yang membiarkan siswanya secara bebas menyontek saat ulangan telah mendidik siswanya untuk berperilaku jujur ? Lihatlah, banyak siswa yang menyontek demi nilai dan terpenuhinya tugas tanpa menghiraukan akibatnya. Selain itu, tidak sedikit dari siswa yang rela mengikuti pelajaran tambahan di luar kelas demi mendapatkan nilai bagus. Tak jarang, beberapa guru yang ‘tidak mau repot’ justru mengajarkan peserta didiknya untuk beramai-ramai kerja sama saat UN dan membeli kunci jawaban. Lalu, salah siapakah ini ?
 
Kita tidak perlu menyalahkan semua orang. Hal ini memang sudah wajar ketika setiap siswa mengejar nilai. Nilai adalah segala sesuatu yang diperoleh dari perilaku kita. Namun sungguh sayang ketika nilai perilaku jarang diperhatikan. Nilai perilaku hanya sekadar formalitas dengan mencantumkan huruf A, B, atau C di rapor. Lain halnya ketika berbicara tentang nilai pelajaran. Apakah kita pernah mendengar bahwa syarat untuk memperoleh beasiswa adalah dengan nilai kerapian, nilai kejujuran, dan nilai kedisiplinan A ? Jawabannya adalah tidak, nilai yang menjadi acuan adalah mata pelajaran tertentu dengan capaian 75 atau lebih. Lalu, bagaimana jika siswa dihadapkan dengan guru yang pelit nilai ? Secara otomatis jika iman lemah maka akan menghalalkan segala macam cara. Siswa-siswa berpikir bahwa belajar jauh-jauh hari hanya akan membuang waktu dan akan lupa di kemudian hari. Cara praktis yang ada di pikiran mereka adalah dengan open book dengan harapan jawaban bisa dipastikan benar semua.
 
Guru juga tidak terlepas dari tindakan korupsi. Meskipun mendapat gelar pahlawan tanpa tanda jasa, setiap guru pasti pernah melakukan korupsi waktu. Guru diberi gaji berdasarkan jam mengajarnya minimal 24 jam seminggu. Jadi, jika ada guru yang terlambat datang mengajar sehingga membuat peserta didiknya berkeliaran seperti ayam kehilangan induk, itu juga merupakan tindakan korupsi meskipun namanya korupsi waktu. Perhatian pemerintah pada kesejahteraan guru sekarang ini memang sudah jauh lebih baik dibandingkan tempo dulu. Sertifikasi guru adalah bentuk perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru sehingga kewajiban untuk meningkatkan profesionalisme tidaklah dapat ditoleransi lagi. 

Potret karakter tidak jujur yang melekat pada diri siswa dan guru adalah cerminan penyakit korupsi di lingkup sekolah. Setidaknya, perlu dilakukan langkah khusus untuk meminimalisasi perilaku korupsi. Langkah pertama, penghayatan kembali terhadap tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan secara umum yaitu ada tiga : (1) menyiapkan sebagi manusia, (2) menyiapkan tenaga kerja, dan (3) menyiapkan warga negara yang baik. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga telah mengamanatkan bahwa pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Di sini tersirat ada fungsi nation and character building, yang selama ini dikritik agak terabaikan. Dari beberapa fungsi tersebut, sudah jelas bahwa pendidikan karakter adalah sebagai kuncinya. 

Langkah kedua, perlu pembudidayaan karakter baik di lingkungan sekolah. Karakter baik tersebut meliputi sifat jujur, amanah, bertanggung jawab, sopan santun, dapat dipercaya, dan lain sebagainya. Guru maupun siswa harus memegang prinsip sifat-sifat tadi agar seimbang. Kebiasaan kecil seperti datang terlambat, mengerjakan PR di sekolah, mengirim sms ketika ulangan, memfotokopi catatan sampai sedemikian kecil sudah patut untuk dihilangkan. Kebiasaan-kebiasaan buruk yang merusak karakter baik tadi harus tergantikan oleh pendidikan karakter dari guru untuk siswa. Guru menyampaikan perannya sebagai pendidik dan pengajar yang baik, sedangkan siswa menerima pendidikan serta melaksanakan tugas yang diberikan guru dengan cara yang benar. Guru yang baik akan menghargai kekurangan dan kelebihan siswanya. Guru yang membocorkan soal ulangan atau mengerjakan soal UN lalu menyebarluaskan kunci jawabannya kepada siswanya, berarti guru tersebut tidak percaya dengan kemampuan siswanya dan kemampuan dirinya dalam mengajar. Seharusnya guru percaya pada siswanya bahwa mereka bisa dan pasti bisa. Dengan membocorkan kunci jawaban atau membocorkan soal, sama saja dengan membuat para siswa berpikir betapa sulitnya soal UN hingga para guru turun tangan dan para guru mengajarkan siswanya untuk tidak jujur. Memang dibalik kesulitan itu pasti akan ada kemudahan. Tetapi, mendapatkan kunci jawaban bukanlah kemudahan yang dimaksud. Itu semua mengajarkan kita untuk berbuat tidak jujur dan tidak percaya dengan kemampuan kita sendiri serta menyia-nyiakan alat indra yang Tuhan berikan kepada kita.

Kejujuran memang pahit, tapi akan indah di akhir. Kejujuran memang datang dari diri sendiri dan untuk diri sendiri pula, tetapi tidak ada salahnya mencontohkan kejujuran untuk orang lain dan mendidiknya untuk berperilaku jujur. Betapa indahnya negara ini berkembang dengan kejujuran. Tidak ada korupsi dan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” dapat berarti sesuai dengan arti yang sebenarnya. Tidak ada yang salah dengan kondisi bangsa ini karena semenjak bersekolah kita mencontohkan perilaku yang tidak jujur dan dididik untuk tidak jujur. Lihatlah, ilmu yang kita cari tidak bisa mencerdaskan kehidupan bangsa ini. Uang yang kita pakai untuk memperoleh nilai ini tidak dapat mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan nilai yang kita peroleh tak pernah bisa menggeser negara maju nomor 1 di dunia, tetapi nilai yang kita peroleh telah mengantarkan bangsa ini menjadi negara korupsi peringkat ke 4 di dunia. Walaupun kejujuran tak pernah bisa menggeser negara maju nomor 1 di dunia dan mengantarkan negara ini menjadi negara maju, tetapi setidaknya kejujuran dapat membuat bangsa ini menjadi bangsa yang makmur dan sejahtera.

Penulis :
Janu Muhammad/janu.muhammad2@gmail.com.www.muhammadjanu.blogspot.com/www.tentanggeografi.wordpress.com

2 komentar:

  1. memang benar pendidikan karakter harus dikembangkan , sekarang kita mahasiswa bukan sebagai penerus bangsa, karena bangsa kita sudah rusak , masa kita akan meneruskan dan melanjtkan bangsa yang sudah rusak, tapi kita adalah agent perubahan, merubah bangsa kita menjadi bangsa yang jauh lebih bermartabat ...

    BalasHapus
  2. yup, ketika berbicara tentang karakter...sejatinya itu tertanam sejak dini. Betapa pentingnya yang namanya 'mendidik' diri sendiri dan orang lain agar berkarakter baik, syukur2 bermanfaat untuk orang lain. terimakasih atas diskusinya :)

    BalasHapus