Ged a Widget

Minggu, 04 November 2012

SEBUAH RELOKASI

Mata saya sedikit terbuka ketika alarm handphone menunjukkan Pkl 03.00. Deringan nada yang cukup keras itu memekakkan telinga, sehingga saya terbangun dari pulasnya tidur. Saat itu saya masih berada di sebuah masjid, masjid Al Hakim namanya. Kebetulan sejak hari kemarin (Sabtu, 3 November 2012) kami dari forum Lembaga Dakwah Sekolah Kota Yogyakarta sedang mengadakan MABIT atau Malam Bina Iman dan Takwa. Tepatnya di kompleks SD IT Luqman Hakim utara balai Kota Yogyakarta. Sekitar Pkl 03.30 WIB saya terbangun secara total dan melihat bahwa teman-teman sudah mengambil air wudhu kemudian melaksanakan sholat Lail. 

Sontak saya bergegas mengambil air wudhu yang berada di samping masjid. Dinginnya air dan udara pagi itu bercampur padu dalam segarnya air wudhu. Setelah itu saya langsung menunaikan sholat lail. Sekita Pkl 03.45 WIB saya selesai kemudian mengirim pesan singkat kepada ibu yang masih di rumah. Karena hari ini adalah hari Ahad, maka saya upayakan untuk membantu bapak ibu berjualan di pasar. Maklum, kami sekeluarga adalah pedagang sayur mayur yang sedang berjuang untuk mencari rezeki yang halal. Dengan kondisi ini, kemudian saya menghubungi panitia untuk izin pulang meninggalkan acara dengan alasan ini. Alhamdulillah, saya diizinkan untuk pulang.

Waktu kini menunjukkan sekitar Pkl 04.00 WIB, waktunya sholat Subuh untuk Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Setelah melewati area jalan Adisutjibto, jalan Colombo, jalan Kaliurang, saya singgah di Masjid Siswa Graha (kalau tidak salah namanya) di utara teknik UGM, tepatnya di daerah Pogung Kidul. Ternyata di sana sudah azan Subuh dan siap dilaksanakan solat Subuh. Usai ibadah Subuh, saya meluncur ke rumah, daerah Caturharjo Sleman, sekitar 17 km dari kampus UNY. Ketika di perjalanan, sempat saya merasakan segarnya udara Minggu pagi di pedesaan karena memang daerah saya sangat asri. Setibanya di rumah, saya langsung berganti pakaian dan sarapan secangkir kopi dan dua potong roti. Alhamdulillah, bisa untuk ganjal perut ini.

Sesuai dengan rencana tadi, saya langsung meluncur ke Pasar Sleman untuk membantu bapak dalam berjualan. Sesampainya di sana, suasana pasar telah ramai. Hiruk pikuk para penjual dan pembeli terlihat di mana-mana. Minggu pagi itu di Pasar Sleman belum seramai biasanya. Pasar Sleman yang biasanya dipenuhi para pembeli di sepanjang jalan tempat itu idak seramai dulu lagi, mengapa ? Sejak sekitar satu Minggu yang lalu Pasar Sleman telah berubah. Bukan berubah menjadi pasar modern, bukan berubah menjadi toko swalayan, tetapi berubah tatanan tempatnya akibat adanya relokasi. Sebuah relokasi yang terjadi sekitar Idul Adha 1433 H kemarin telah memberi sebuah tamparan kepada seluruh pedagang di Pasar Ini. Lapak para pedagang yang berada di sekitar Jl. Letkol Subadri, atau di sekeliling Pasar Sleman secara tuntas dibersihkan dan dipindahkan di bekas Pasar Hewan sebelah timur. Sementara itu, pasar hewan kini berada di sebelah selatan pasar sayur yang baru.

Peristiwa relokasi inilah yang juga dialami oleh keluarga saya. Bapak dan ibu saya yang dahulu berjualan di sekitar Jl Letkol Subadri utara pasar kini pindah di sebuah tempat terpencil di pasar sayur Sleman. Alasan yang saya dengar dari ibu saya dan juga teman-teman ibu saya adlah untuk menertibkan pasar agar tertata rapi. Selain itu, ada satu alasan mengapa dilakukan relokasi yaitu untuk mempersiapkan Sleman sebagai calon peserta penghargaan Adipura. Memang ini alasan yang logis, namun relokasi ini setidaknya membawa banyak dampak yang kini dialami para pedagang maupun pembeli. 

pedagang di perempatan Pasar Sleman yang turut direlokasi

Ketika saya sampai di lapak dagang, terlihat jumlah pedagang yang tidak sebanding dengan jumlah pembeli. Banyaknya para pedagangyang berjualan ternyata belum diimbangi oleh jumlah pembeli yang masih sangat sedikit. Apalagi, mayoritas pedagang di sini merupakan pedagang sayuran, maka persaingan menjadi sangat ketat. Ini satu potret tantangan yang harus dihadapi para pedagang. Di sisi lain, pembeli pada saat ini akan sedikit terkendaladalam mengakses lokasi pasar sayur karena lebih repot dari biasanya. Yang dahulu bisa dengan mudah di pinggir jalan, namun sekarang harus turun dari sepeda motor dan berjalan mencari pedagang yang telah menjadi langganannya. 

Saya pun sempat melihat banyaknya lapak yang tanpa pembeli satu pun ketika saya menemani bapak berjualan. Mereka yang sedang berjualan terlihat pucat raut wajahnya yang telah lama menunggu pembeli. Lebih parah lagi pedagang yang mendapat tempat di daerah pojok paling barat-selatan. “Ya Allah, apa ini yang harus dihadapi kami ?” batin saya dalam hati. Akibat dari relokasi ini tidaklah sedikit. Memang, dengan adanya relokasi ini akan membawa perubahan baik dari segi penataan pasar. Namun, satu hal yang perlu diperhatikan adalah kesiapan lahir batin yang harus dihadapi para pedagang. Betapa tidak sedikit kecewa mereka, dulu yang setiap pagi dagangan langsung habis, namun sekarang tidak semudah itu. Faktor lokasi lah yang menjadi penyebabnya. Dari kacamata geografi memandang adanya akses yang dekat dengan jalan akan mempermudah adanya transaksi, namun adanya akses dari keramaian di jalan akan menyulitkan akses lokasi. 

kawasan pasar burung sisi timur yang juga direlokasi

Dengan peristiwa relokasi ini, setidaknya ada beberapa masukan yang bisa dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Sleman sebagai pihak berwajib yang mengurusi masalah ini. Pertama, perlu dilakukan sosialisasi jauh-jauh hari sebelumnya. Terlihat di lapangan banyak pedagang dan pembeli yang kurang tahu dan belum siap untuk di relokasi. Kedua, seharusnya disediakan tempat yang layak untuk berjualan. Fakta di lapangan menunjukkan kumuhnya tempat dan kurangnya penataan tempat yang bagus sehingga tidak sedap untuk dipandang. Seharusnya disediakan fasilitas pendukung, seperti bangunan beratap dan sanitasi yang baik. Ketiga, adanya tanggung jawab pemerintah kepada para pedagang untuk menjamin keberlangsungan usaha mereka. Selain itu, perlu kontinuitas agar pada waktu yang akan datang para pedagang tidak akan kembali berjualan di sekitar jalan Pasar Sleman lagi. Keempat, saran untuk para pedagang adalah tetap berdagang dan berbisnis secara sehat dan halal. Meskipun banyak pedagang yang berjualan, mereka adalah mitra, bukan pesaing. Kemudian saran untuk para pembeli tetaplah berbelanja di Pasar Sleman meski kini sudah dipindah, tunjukkan loyalitas pembeli :D Semoga dengan sebuah relokasi ini memberi pelajaran berharga bagi kita semua. Bahwa relokasi itu tidak selamanya berkonotasi buruk, namun berkonotasi baik J Tetap semangat dalam mencari rezeki halal !


Sleman, 4 November 2012 Pkl 16:08 WIB
Janu Muhammad

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar