Ged a Widget

Kamis, 15 November 2012

MODERNISASI MELUMPUHKAN ESENSI SUMPAH PEMUDA



Modernisasi Melumpuhkan Esensi Sumpah Pemuda
oleh : Janu Muhammad/P.Geografi UNY 2011
(LOMBA BLOG HIMA ADP UNY 2012)

“Sudah sekitar 84 tahun peristiwa Sumpah Pemuda berlalu. Peristiwa agung itu adalah tonggak awal berdirinya bangsa Indonesia. Para pemuda menyatakan ikrarnya untuk melawan kekejaman kaum kolonial. Kemerdekaan pun akhirnya dapat kita raih, namun modernisasi rupanya sedang berusaha melumpuhkan semangat pemuda abad 21 ini.”
           
            Tanggal 28 Oktober 2012 kemarin merupakan momentum berharga bagi bangsa Indonesia. Pada tanggal itu, bangsa Indonesia diingatkan oleh sebuah peristiwa penting yang telah mengubah zaman penindasan menuju zaman kebangkitan, yaitu peristiwa Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda merupakan sebuah awal kebangkitan negeri ini dengan tertuangnya tiga ikrar para pemuda Indonesia dalam  naskah yang ditulis oleh Muhammad Yamin. Sumpah Pemuda adalah bukti otentik bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928, bangsa Indonesia dilahirkan. Proses kelahiran ini merupakan buah dari perjuangan rakyat Indonesia yang selama ratusan tahun tertindas oleh kaum kolonialis pada saat itu. Kondisi ketertindasan inilah yang mendorong para pemuda untuk membulatkan tekad demi mengangkat martabat bangsa Indonesia menuju gerbang kemerdekaan Indonesia.
            Rumusan Sumpah Pemuda ditulis oleh Muhammad Yamin pada secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo ketika Mr. Sunarjo sedang berpidato pada sesi terakhir kongres sambil berbisik kepada Soegondo : Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini). Soegondo membubuhi tanda setuju pada secarik kertas tersebut kemudian dijelaskan secara jelas oleh Muhammad Yamin. Ikrar Sumpah Pemuda versi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) :
Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.



Ikrar Sumpah Pemuda yang dibacakan di Jalan Kramat Raya 106 atau di sebuah rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong merupakan janji setia perjuangan pemuda Indonesia. Dalam tiga kalimat tersebut kita bisa mengambil intisari yaitu kebulatan tekad putra-putri Indonesia dalam membela tanah air, berbangsa, dan berbahasa Indonesia. Ini adalah sebuah spirit baru yang lahir dari para generasi muda Indonesia yang pada saat itu mempelopori pergerakan dan kebangkitan nasional demi tercapainya kemerdekaan. Tentu tidak mudah bagi para pemuda untuk berani mengambil tindakan tegas dalam rangka melawan penjajah.
Perjuangan pemuda melalui Sumpah Pemuda dilanjutkan dengan adanya keikutsertaan generasi tua dalam pendirian organisasi nasional seperti Budi Utomo, Serikat Islam, Indisje Partij, dan lain sebagainya. Pegerakan ini merupakan upaya dari bidang politik, ekonomi, pertahanan, sosial, budaya, agama, dan lain-lain demi tercapainya kemerdekaan Indonesia. Tantangan pun datang silih berganti, mulai dari kepemimpinan kolonial Belanda sampai kepemimpinan Jepang yang mempekerjakan rakyat Indonesia melalui program tanam paksa. Penindasan dan penghinaan kepada kaum pribumi adalah hal yang biasa. Rakyat kelaparan, kemiskinan merajalela, bahkan kematian ada di mana-mana. Kondisi tersebut mengakibatkan penderitaan yang berkepanjangan hingga akhirnya timbul pergolakan di berbagai daerah. Namun, dengan semangat persatuan bangsa dan tetes keringat untuk mengusir penjajah, bangsa ini bisa merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.



Peristiwa Sumpah Pemuda adalah peristiwa besar dan mengandung keajaiban-keajaiban. Keajaiban itu dapat dilihat dari tempat dan waktu terjadinya. Dari tempat terjadinya di rumah nomer 106 mengandung 7 keajaiban, seperti jumlah angkanya (1 + 0 + 6 = 7). Tahun 1928 mengandung makna satu nusa, satu bangsa. Terdiri 1900 dan 28. Tahun 1900 itu satu nusa. Penjelasannya yaitu 1 + 9 = 10 dan angka 10 sama dengan angka satu. Angka 28 juga satu, satu bangsa ( 2 + 8 = 10 ) dan bulan Oktober, bulan kesepuluh, satu bahasa. Tanggal 28 juga sepuluh, satu negara Republik Indonesia. Jadi waktu terjadinya sumpah pemuda itu mengandung makna Satu nusa, Satu bangsa, satu bahasa dan satu bentuk negara yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tanggal 28 yang mempunyai makna tentang bentuk negara NKRI itu juga sesuai dengan nama gang-nya yaitu gang Kenari yang berarti Kesatuan Negara Republik Indonesia. Gang artinya jalan sempit dan keadaan gang itu bermacam-macam. Tapi yang dituju adalah gang Kenari. Juga nama jalannya yaitu Kramat Raya, Kramat-Kemulyaan, Raya-besar. Menuju kemulyaan yang besar bukan jalan kehinaan. Ini adalah makna filosofis mengenai waktu terjadinya Sumpah Pemuda.
Sudah sekitar 84 tahun peristiwa Sumpah Pemuda berlalu. Peristiwa agung itu adalah tonggak awal berdirinya bangsa Indonesia. Para pemuda menyatakan ikrarnya untuk melawan kekejaman kaum kolonial. Kemerdekaan pun akhirnya dapat kita raih, namun modernisasi rupanya sedang berusaha melumpuhkan semangat pemuda abad 21 ini. Modernisasi adalah sebuah cobaan bagi para generasi muda. Seperti apa yang disampaikan pada ramalan Jayabaya, akan ada suatu zaman di mana negeri ini akan kacau balau. Para pemudanya tidak lagi bangga terhadap jati dirinya. Hal ini bisa kita lihat dari berbagai kasus yang melibatkan kaum muda Indonesia, seperti tawuran di perguruan tinggi beberapa bulan kemarin. Belum lagi dengan kasus tawuran pelajar hingga menyebabkan korban meninggal.



Sungguh memprihatinkan ketika esensi Sumpah Pemuda itu lumpuh. Para pemuda abad 21 ini kurang peduli dengan keadaan Indonesia. Kasus kriminal dan lain sebagainya seakan menjadi potret pemuda saat ini dan tidak bisa mengimbangi peran pemuda sebagai agen of change bagi bangsa Indonesia. Mari kita refleksikan diri kita untuk senantiasa bersyukur terhadap apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Kita sudah merdeka tetapi kita sebenarnya masih dijajah. Modernisasi dari berbagai bidang, mulai dari teknologi, ilmu pengetahuan, mode pakaian, gaya hidup, sampai modernisasi makanan menjadi bumerang jika kita tidak melakukan filterisasi.
Seharusnya kita sebagai generasi muda mampu memberikan sumbangsih dan kontribusi untuk negeri ini. Indonesia memerlukan sosok generasi muda yang berguna, bukan generasi tanpa guna. Modernisasi sejatinya mampu kita tepis dengan semangat terus berkarya positif dan mengabaikan gaya hidup bangsa Barat yang memang tidak sesuai dengan kearifan Indonesia. Sebagai seorang mahasiswa hendaknya bisa melakukan pembaharuan, meneladani semangat kaum muda ketika membangun bangsa ini. Kita bisa menyumbangkan pemikiran, karya untuk negeri ini melalui prestasi ataupun lainnya. Kita junjung semangat patriotisme, rasa cinta tanah air ini. Kita bangga mempunyai bahasa persatuan, bahasa Indonesia dan senantiasa melestarikan budaya lokal Indonesia. Bangsa ini tentu perlu generasi penerus yang mau maju dan berkiprah untuk negeri. Pada akhirnya, esensi dari semangat Sumpah Pemuda abad 21 ini akan jauh lebih baik walau harus menghadapi derasnya arus modernisasi.


Referensi :

Kuntowijoyo. 2005. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang Pustaka.

Nasiwan, dkk. 2010. Dari Kampus UNY untuk Indonesia Baru. Yogyakarta: Penerbit ARTI.

Keajaiban Sumpah Pemuda Indonesia, http://duniapemuda.com/keajaiban-sumpah-pemuda-indonesia/ diunduh pada tanggal 14 November 2012 Pkl 23.55 WIB

           

2 komentar:

  1. semangat .... Pemuda Muslim harapan Dunia!!!

    BalasHapus
  2. Betul sekali Bung :D Pemuda harus Semangat berkarya :D Terimakasih mas Faruq atas kunjungannya,

    BalasHapus