Ged a Widget

Kamis, 22 November 2012

KETEGARAN DALAM HALAQAH

Bismillah wal hamdulillah, segala puji hanya kepada Allah subhanahu wata’ala, Tuhan semesta alam. Semoga kita senantiasa diberikan kerahmatan dan keberkahan oleh Allah. Ba’da tahmid, sholawat serta salam semoga tercurah kepada baginda Rasulullah Shallallahu’alaikhi wasallam beserta, keluarga, serta sahabatnya yang senantiasa berada pada jalan Islam ini. Semoga umat Islam ini senantiasa berada dalam jalan lurus ini dengan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai pedomannya.
Satu hal yang sudah menjadi suatu kewajiban bagi setiap muslim adalah menuntut ilmu. Mengapa ilmu ? Dalam awal Al Alaq telah dijelaskan perintah membaca. Secara langsung, hal itu merupakan perintah dari Allah untuk umat muslim di dunia ini. Dengan kata lain, membaca erat kaitannya dengan mencari ilmu. Ilmu yang dicari bukan hanya ilmu untuk dunia saja, tetapi juga ilmu akhirat. Keutamaan menuntut ilmu agama Islam sangatlah banyak. Allah sudah menjanjikan dalam Surat Al Mujaddilah ayat 11 bahwa seseorang yang beriman dan berilmu akan ditinggikan derajatnya di mata Allah. Bukankah ini suatu janji Allah itu selalu benar ?
Mata saya mulai terbuka lebar ketika pertama kali menapakkan kai di lantai Masjid Ash Shidiq SMA Negeri 2 Yogyakarta (Smada). Subhanallah, begitu tampak sosok-sosok “anak masjid” yang selalu stand by menyapa para muslim yang sholat berjamaah di masjid tersebut. Inilah sambutan Islam yang begitu indah dan menimbulkan kesan tersendiri bagi saya di sekolah itu. Sosok-sosok siswa putra  dengan celana yang agak sedikit dilipat ke atas dan siswa putrid dengan jilbab yang menutup hampir seluruh badan telah membuat saya jatuh hati untuk ingin mengenal mereka lebih dekat. Ya, inilah satu perasaan yang pertama kali saya dapatkan ketika mengenal Islam di Smada.
Hari berikutnya akhirnya setelah saya melakukan penelusuran mendalam, didapatlah informasi bahwa mereka adalah pengurus Kharisma (Kerohanian Islam Smada). Alhamdulillah, Allah mulai menuntun saya untuk bergaul dengan mereka, meskipun masih sangat lugu dan penuh dengan keingintahuan. Beberapa peristiwa dan kegiatan yang berbau Islami pun telah menyambut kami sebagai siswa baru. Hingga pada suatu saat, dibukalah pendaftaran pengurus Rohis Kharisma. Bismillah, hati kecil ini berkata untuk mencapai panggilan itu. Dengan keterbatasan yang ada, diri ini saya arahkan untuk ikut dan tergabung dalam ukhuwah Rohis Kharisma bersama mereka tadi. Dengan kata lain, itulah kali pertama ‘dakwah’ mulai bersemayam di hati saya yang masih penuh dengan kepolosan.
Hari-hari berikutnya telah tampak suasana dan iklim Islam di Smada. Salah satu hal baru yang saya temui adalah adanya orang asing yang selalu dating dan berkumpul pada hari Jumat. “Siapakah mereka ?” tanya saya dalam hati. Setelah mendapatkan info, mereka adalah alumni Smada yang biasa dating pada hari Jumat untuk mengisi mentoring. “Apa itu mentoring?” tanya saya dalam hati lagi. Pertanyaan saya tadi bisa terjawab ketika saya pertama kali diwawancara dalam pos test mentoring untuk pertama kali dalam tahun pelajaran itu. Kami dijelaskan mentoring sendiri yang begitu sangat penting bagi generasi muda.  Sampai pada uji kemampuan seberapa besar pengetahuan para siswa baru muslim tentang pengetahuannya dalam beragama Islam.
Sejak awal mengenal mentoring tersebut, sejak pertama kalinya pula saya mengenal sosok seorang mentor. Mentor adalah seorang yang menjadi orang tua ketika saya dan teman-teman mengikuti mentoring. Mentor adalah seorang kakak yang senantiasa membantu dan memberikan bimbingan kepada adik-adiknya. Sedangkan mentee adalah mereka yang menjadi peserta dalam mentoring itu sendiri. Perjalanan bermentoring pun dimulai. Alhamdulillah pada hari Jumat adalah waktu yang dinanti-nanti untuk berkumpul bersama teman satu halaqah. Memang, aturan di sekolah kami sudah lama mewajibkan siswa-siswa muslim kelas sepuluh untuk mengikuti kegiatan pendampingan agama Islam yaitu mentoring.
Di lain pihak, Allah telah merencanakan hal terbaik untuk semua makhluk-Nya. Suatu keberkahan dan izin Allah, saya diterima menjadi pengurus rohis. Mulai saat itu saya mengenal apa itu ‘amanah’ ataupun yang sudah tidak asing lagi apa itu ‘dakwah’. Pada esensinya sebuah amanah dalam dakwah itu merupakan pesan kebaikan yang harus tersampaikan kepada para umat. Dakwah yang pada intinya beramar ma’ruf nahi munkar mengajarkan kita untuk istiqomah dalam melakukan perbaikan umat maupun perbaikan diri sendiri. Ya, saat itu cita-cita saya adalah ingin menjadi lebih baik dengan belajar agama Islam. Bukankah Allah sudah menjanjikan pahala yang berlimpah pula ?
Pada intinya yang namanya mentoing tidak bisa dilepaskan dengan adanya dakwah itu sendiri. Dakwah adalah menyampaikan kebaikan, mentoring pun mengajak ke dalam kebaikan. Mentoring yang telah menjadi sebuah kegiatan tersendiri juga secara langsung akan terlihat keberhasilannya ketika kita menyampaikan dakwah. Pernah suatu ketika, kelompok mentoring yang seharusnya lengkap, tetapi ternyata ada satu dua mentee yang tidak datang. Saya saat itu berusaha untuk selalu hadir mentoring, namun ternyata mulai timbul gejala tidak sehat ketika amanah begitu banyak.
Futur adalah suatu hal yang saya rasakan saat itu. Ketika amanah dakwah begitu berat, ketika amanah lain telah menanti, dan ketika sering pamitan kepada mentor adalah saat-saat paling bisa saya rasakan hilangnya ruh dan semangat dari diri ini. Dengan kata lain, mentoring adalah satu hal yang amat sangat urgent bagi diri saya dan semua orang, bukankah demikian ? Mulai saat itu Alhamdulillah saya kembali mencoba untuk bangkit dengan mengintensifkan diri untuk hadir dalam mentoring. Alhamdulillah, kapasitas dakwah bisa kembali tercapai berkat keistiqomahan kepada Allah dengan selalu ngaji.
Beberapa bulan setelahnya, ada yang berbeda dengan mentoring saya. Pada saat itu saya mulai dijelaskan yang namanya halaqah atau liqo’. Seiring dengan berjalannya waktu, mentor pun berganti dengan istilah murobbi dan mentee berganti menjadi mutarobbi. Suka duka, senang sedih, haru bahagia berpadu dalam balutan halaqah. Setidaknya saya bisa mengambil ibror bahwa kita berhalaqah bukanlah hanya untuk formalitas sebagai aktivis dakwah semata. Kita berhalaqah bukanlah hanya untuk mengikuti perintah murobbi semata. Tetapi sejatinya halaqah itu adalah wujud ibadah kita kepada Allah. Halaqah adalah wujud kita dalam bersemangat mencari ilmu Allah. Halaqah tidak membutuhkan kita, namun kitalah yang membutuhkan halaqah tiap pekan.
Akan sangat sia-sia amal yang kita lakukan  dan dakwahkan ini jika tanpa adanya suatu ilmu syar’i sesuai petunjuk Al Qur’an dan As Sunnah. Untuk itu, sudah jelas kiranya esensi dari halaqah yang mendidik kita untuk istiqomah dalam berdakwah. Ketegaran kita dalam halaqah merupakan indikator seberapa jauh keimanan kita karena yang dinamakan mengaji dan mencari ilmu syar’i  tidak terbatas oleh waktu. Semoga kita termasuk orang-orang yang tegar dalam setiap halaqah dan istiqomah dalam menyampaikan dakwah, lillah. InsyaAllah



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar