Ged a Widget

Kamis, 18 Oktober 2012

Menjadi Seorang Mahasiswa

Mahasiswa adalah satu gelar terhormat yang saya miliki saat ini. Namun, entah gelar itu hanya sebatas embel-embel ataukah benar-benar pantas melekat dalam diri saya. Sejenak berpikir, perjalanan di bangku kuliah ini sudah memasuki tahun ke-2, bukan "maba" lagi ! Menjadi seorang mahasiswa itu ibarat diuji nyali. Pasalnya, kita pasti dihadapkan akan gejolak jiwa yang selalu ada kapan dan dimana saja, betul demikian ? Belum lagi, menjadi mahasiswa itu adalah saat-saat di mana iman mudah digoda. Pergaulan bebas, pola hidup yang berbeda, bahkan jauh dengan orang tua menjadi sebuah risiko yang diemban tunas bangsa ini.

Menjadi seorang mahasiswa itu mudah. Mudah dalam segi memboroskan uang, mudah dalam segi meminta uang kepada orang tua, atau mudah dalam membelanjakan uang bulanan. Intinya semuanya butuh uang, tidak ada satupun kebutuhan mahasiswa yang gratis, kecuali mereka yang mendapatkan beasiswa bidik misi, betul ? Inilah yang saya krusial dan vital, ekonomi menjadi penentu utama kemakmuran mahasiswa dan jaminan selama kurang lebih empat tahun kuliah. Mahasiswa memang banyak kebutuhan hidup. Buku, pakaian, laptop, makanan sehari-hari, dan lain sebagainya adalah teman sehari-hari mereka. Mau tidak mau sebagian harus terpenuhi bukan ?

Hal senada dengan di atas, menjadi mahasiswa itu mudah. Mudah melewatkan waktu-waktu yang ada tanpa suatu aktivitas berarti. Mudah langsung tidur daripada belajar. Mudah mengulur waktu ketika mendapat tugas, bahkan sering terlambat masuk kelas. Itulah fenomena nyata yang ada di lingkungan kampus saya. Setiap hari ada saja mahasiswa yang datang terlambat ataupun tidak masuk kelas. Banyak juga mereka yang hanya FB-an, bukannya baca buku materi perkuliahan tetapi malah asik berselancar di dunia maya. Ironis, memang sangat ironis. Kita secara tidak langsung telah menjadi budak atas dewasanya zaman. Kita terlalu menggurukan dunia maya untuk sekadar membuka situs-situs yang tidak penting (mungkin).

Lihatlah sekarang di luar sana. Masih ingatkah dengan peristiwa tawuran UNM Makassar beberapa hari yang lalu ? Itukah moral dan perilaku mahasiswa saat ini ? Sangat memalukan, ketika yang seharusnya seorang mahasiswa menjadi teladan bagi lingkungannya justru malah menjadi korban penipuan hawa nafsu. Ya, semua itu berawal dari adanya nafsu yang tidak terkendali. Hanya persoalan sepele yang kian membesar karena tanpa ada upaya penyelesaian. Seharusnya mereka membuka mata, sadar dan sabar dalam menghadapi setiap masalah sepele seperti itu. Bagaimana akibatnya ? Fatal kan ? Dua mahasiswa dikabarkan mati dengan sia-sia, tertindas akibat kekejaman insiden itu. Polisi pun tak bisa berkutik menangani masalah ini. Inikah cermin mahasiswa Indonesia saat ini ? Sungguh memprihatinkan.
Satu masalah ini tentunya mempunyai alternatif solusi untuk segera dipecahkan. Pentingnya menanamkan ilmu agama sejak dini menjadi kunci utama. Pentingnya peran orang tua dalam mendidik di lingkup keluarga juga menjadi indikator keberhasilan si anak dalam berperilaku positif. Pendidikan karakter sudah seharusnya diajarkan sejak kecil karena karakter baik itu susah dibentuk ketika dewasa. Memang itu semua tidak mudah, namun saatnya kita sadar bahwa mahasiswa adalah generasi penerus Indonesia untuk masa depan. Moralnya, akhlaknya, perilakunya, bahkan kepemimpinannya adalah sinar harapan bagi semua.

1 komentar: