Ged a Widget

Senin, 27 Maret 2017

Pengalaman Mengikuti Konferensi Ilmiah di India

Menjadi seorang mahasiswa MSc Research in Human Geography di University of Birmingham mengharuskan saya untuk pintar-pintar membagi waktu. Sebagai mahasiswa S2 yang masa studinya hanya 1 tahun, dua semester telah saya jalani dengan lancar. Ada 4 modul wajib dan 2 modul pilihan yang telah saya ikuti. Semuanya membutuhkan effort yang keras, kuliah yang cukup padat dan super singkat, sempat membuat saya mabuk akademik. Paper-paper yang harus saya baca tiap hari tak jarang membuat saya insomnia dan kadang justru mengantuk ketika di kelas. Inilah sisi lain kuliah yang saya jalani. Saya berusaha mengambil setiap nilai positif yang saya dapatkan dari proses pembelajaran di UoB. Selain akademik kampus, saya juga ditantang untuk membagi waktu sebagai pelayan di PPI-MIB, sebuah organisasi yang kini saya pimpin, pun juga dengan beberapa asosiasi geografi internasional yang saya ikuti, atau sebagai ketua mahasiswa pascasarjana di College of LIfe and Environmental Sciences.

Hasrat untuk kembali menulis pun kembali muncul di masa studi S2 ini. Dulu, ketika S1 saya cukup sering menulis paper dan karya tulis ilmiah, mengikutkannya di lomba dan konferensi, hingga pernah dipercaya menjadi mahasiswa berprestasi di UNY. Kini, kegundahan itu kembali datang. Saya haus untuk bertemu orang-orang baru dalam lingkaran akademik, yang pada akhirnya saya mengirim beberapa abstrak dan hingga waktu ini ada 3 abstrak yang sudah saya terima: konferensi di India, Irlandia, dan Cardiff UK. Saya tidak sembarang memasukkan abstrak/paper yang saya buat, saya memilih konferensi yang penyelenggaranya adalah asosiasi bidang keilmuan saya, punya reputasi baik, tema spesifik tentang geografi manusia, dan dihadiri berbagai delegasi negara.

Mengapa mengikuti konferensi ilmiah ? Pertama, tentunya untuk mengasah daya kritis kita dalam menulis ilmiah serta mempresentasikannya di depan peserta dari negara lain. Hal ini akan menjadi pengalaman berharga terutama untuk mendapatkan feedback dari orang lain. Kedua, untuk memperluas jaringan dengan para peneliti/scholar yang sebidang dengan kita. Ini juga kesempatan bagus untuk membuka peluang kolaborasi riset. Ketika, simple saja untuk mewakili Indonesia dan UoB di forum ilmiah internasional.

Lalu, apa saja langkah-langkah yang saya lakukan ?
1. Mengirimkan abstrak dari paper yang saya buat ke panitia. Untuk 3 konferensi yang saya ikuti tahun 2017 ini, berikut adalah website resminya :

http://www.iguhyderabad2017.com/ di India, disini saya adalah anggota Urban Commission of International Geographical Union.

http://www.regionalstudies.org/conferences/conference/rsa-dublin-2017 di Irlandia, disini saya adalah anggota tetap Regional Studies Association.

http://www.pgf.rgs.org/mid-term-conference-2017/ di Cardiff UK, disini saya adalah Young Geographer di Royal Geographical Society.

Untuk sekadar submit abstrak, tentu tanpa biaya.

2. Setelah ada keputusan dari panitia, biasanya kita akan dikirimi letter of acceptance yang menerangkan bahwa kita diberi kesempatan presentasi paper/poster. Kita juga diminta membayar biaya registrasi untuk booking tempat. Untuk yang India, saya dibantu oleh LPDP Karena disana ada skema dana konferensi, untuk yang di Irlandia, saya membayar sendiri, untuk yang di Cardiff saya mendapatkan beasiswa dari panitia. Selain mengikuti presentasi paper di India, saya juga berkesempatan mengikuti kompetisi poster ilmiah internasional, menarik kan ? Saya sendiri belum pernah mengikuti lomba poster ilmiah seperti ini.

3. Buat dan submit full paper, rencanakan perjalanan ke konferensi. Setelah resmi akan berangkat ke India, saya menyiapkan segala apa yang harus saya lakukan. Mulai dari mengirim full paper, membuat visa on arrival, membeli tiket perjalanan serta asuransi, juga mengurus akomodasi selama tinggal disana.Semua harus disiapkan jauh-jauh hari.

Lalu bagaimana pengalaman selama presentasi di India ?

Well, ini adalah pengalaman presentasi ilmiah pertama selama S2. Teman-teman tahu, sebenarnya persiapan saya cukup mepet karena kuliah padat dan banyak kegiatan di PPI-MIB. Saya hanya mempersiapkan konferensi ini di sela-sela kegiatan utama saya. Lokasi konferensi ini adalah di kota Hyderabad, bagian selatan India, berlangsung dari 17-19 Maret 2017. Tujuan awal saya adalah di Taj Mahal, dengan ekspektasi saya akan ke Taj Mahal dulu ya , mumpung di India.

Saya berangkat hari Rabu pagi, 15 Maret dari Birmingham airport, transit di Amsterdam dan mendarat di Delhi. India yang saya kira cukup aman bagi solo traveller seperti saya ternyata kurang bersahabat. Sejak turun di airport, saya menunggu hingga Subuh. Setelah sholat Subuh, saya hendak menunggu Metro untuk menuju Delhi train station. Ternyata metro tidak beroperasi dan saya langsung ditawari taksi menuju stasiun agar bisa ke Agra, tempatnya Taj Mahal. SIngkat cerita, saya kena scam (penipuan) serta pemalakan di jalan. Innalillah, nyawa saya terancam dan sempat dipukul orang. Saya pun kehilangan ribuan rupee. Pikiran saya langsung berubah sejak saya masuk agen perjalanan, saya hanya ingin tinggal di hotel sampai esok hari (penerbangan ke Hyderabad). Pagi buta itu saya , saya harus tetap bersyukur karena nyawa saya selamat. Pada intinya, hari itu menjadi ujian terberat saya selama di luar negeri. Jadi, saya sarankan agar teman-teman jangan jalan sendiri ketika di India, harus ada yang menemani. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, hanya perlu waspada dan terus berdoa. Oiya, saya juga belum punya akses internet karena kalaupun beli sim card pasti baru aktif 2-3 hari dan syaratnya ribet. Faktor internet ini juga jadi penyebabnya. Saya baru dapat internet pas ke kafe untuk beli jus mangga.

Alhamdulillah, hari yang ditunggu-tunggu tiba. Saya mendarat di Hyderabad dengan suka cita. Saya tetap disambut dengan kerasnya bunyi klakson kendaraan, polusi yang pekat, orang-orang yang naik motor tanpa helm, macet, lingkungan semrawut, dan lain sebagainya. Namun, semua itu tidak berarti karena saya sudah ketemu orang Indonesia di sana! Ya, ada Mas Rouf, mas Tama, Mas Nawi, dan Mas Fajar...empat mahasiswa asal Indonesia yang studi dengan beasiswa pemerintah India. Saya menginap di hostelnya EFLU, kampus sampingnya Osmania University dan 3 hari hanya membayar 450 rupee, sekitar 10 pound in total.

Selama konferensi berlangsung, saya bertemu dengan orang-orang baru, ada sekitar 300 paper yang dipresentasikan, rata-rata pesertanya dari India...totalnya ada 15 negara yang hadir. Saya bersyukur dapat bertemu presiden International Geographical Union dari Jepang, presiden urban commission dari Swiss, peserta dari Rusia, Afrika, dan lain sebagainya. Pengalaaman seru juga berinteraksi dengan orang-orang India yang lucu dan unik, sampai-sampai saya ikut geleng-geleng kepala pas jabat tangan,hehe. Soal makanan ? Hmmm, tiada duanya! Nasi biryani dan kari berkuah pedas berhasil menggoyangkan perut saya karene panas dan pedas! Di sisi lain, saya mendapatkan pembelajaran baru bahwa orang-orang India (para peneliti) ini rajin presentasi ilmiah, mereka sangat percaya diri dan kritis dalam berpendapat, bahkan kenalan yang saya temui presentasi 10 paper. Beneran...!

Saya pun telah melaksanakan misi utama untuk presentasi paper, poster, serta menjadi rapporteur di sesi-4. Well done, cukup banyak peserta yang bertanya dan antusias dengan presentasi saya. Saya mendapat banyak kenalan, mungkin ya karena saya dari Indonesia dan studi di UK. Oiya, rata-rata yang presentasi sudah PhD atau bahkan professor. Saya belajar banyak dari mereka :)

Keramahtamahan peserta di konferensi geografi internasional ini menjadi momentum yang terus saya ingat. Di Hyderabad, saya adalah tamu yang disuguhi dengan sambutan hangat. Tak lupa, saya sempatkan untuk cari angin segar di hari ke-dua bersama tiga kawan baru saya tadi sebelum tgl 19 pulang ke UK. Selepas pulang ke UK, saya menerima sebuah email bahwa saya dipercaya sebagai perwakilan Urban Commission of International Geographical Union se Asia. Ya Rabb...
https://www.unil.ch/igu-urban/en/home.html 

Apa yang bisa saya petik dari perjalanan saya ini ?
1. Perlunya persiapan yang baik sebelum keberangkatan.
2. Perlunya mengontak PPI India/Delhi/Hyderabad agar menemani perjalanan selama di India.
3. Waspada dalam setiap perjalanan di negara yang sama sekali belum pernah kita kunjungi.
4. Jadilah tamu yang baik karena kita mewakili institusi dan negara asal.
5. Perluas relasi sebanyak mungkin selama mengikuti konferensi (perlu bawa kartu nama yang banyak) hehehe.

Alhamdulillah, Allah yang memudahkannya. Terimakasih atas support kawan-kawan. Terimakasih India atas pengalaman yang tak terlupakan ini. Terimakasih LPDP yang sudah memberikan support dana untuk konferensi saya ini. Semoga ini menjadi langkah awal saya untuk semakin giat menulis dan publikasi ilmiah. Semoga konferensi-konferensi selanjutnya juga lancar :) aamiin

Salam hangat,

Janu Muhammad

Sehari Belajar di Cambridge University, UK

Picture

Sabtu, 25 Maret 2017 menjadi salah satu hari bersejarah bagi saya di UK. Hari ini saya bersama Reza dan Ifi yang keduanya adalah pengurus PPI-MIB berkesempatan untuk 'belajar' di Cambridge University. Kami menghadiri Cambridge University Southeast Asian Conference 2017. Tujuan dari konferensi ini adalah sebagai platform yang menghubungkan para pemuda pemudi ASEAN yang sedang studi di UK untuk mendiskusikan gagasan di bidang socio-cultural, economic, and politic.D

Pagi harinya, kami menyimak pemaparan presentasi dari dubes Filipina di UK serta beberapa pembicara lainnya (termasuk Pal Fendi, seorang aktivis human right dari Indonesia). This is absolutely amazing conference. Siang harinya kami mengikuti workshop dengan 3 topik berbeda (tim kami topiknya tentang pendidikan) yang dipandu Mbak Tracey, mahasiswi Indonesia di Oxford. Tim saya terdiri dari saya, 2 anak Cambridge dan 1 anak UCL London. After very very long doscussion, akhirnya kami presentasi.


What I have learnt from this focus group discussion ? Pertama, kita harus mampu berpikir kritis dan rasional dalam merumuskan sebuah isu menjadi problem statement. Kedua, perlunya action plan yang applicable untuk diterapkan di objek negara yang dipilih. Anyway karena topik kami tentang improving the quality of education, kami mendapatkan data-data bahwa Laos dan Cambodia adalah dua negara yang perlu kita angkat karena kualitas pendidikannya tergolong pada level bawah. Selanjutnya, pentingnya kerja tim yang solid ya. Salah satu tantangan tadi adalah bagaimana saya harus mampu menempatkan diri di tengah anggota tim yang diverse dan mereka argumentatif banget. That's why I must put myself on the right position.

Sehari belajar di Cambridge adalah mimpi yang menjadi nyata. Betapa berharganya pengalaman hari ini belajar di kampus unggulan dunia, kampus yang telah mencetak ilmuwan-ilmuwan besar dunia, kampus yang sangat ketat untuk diterima jadi mahasiswa disana, susah juga buat keluar/lulus katanya.hehe.Akhirnya, alhamdulillah semua selesai dengan baik. Presentasi done dan sempat keliling Cambridge sore harinya.

Ini cerita singkat saya sehari belajar di Cambridge University, teman-teman ada cerita juga yang mau dibagi ? :)

Birmingham, 25/3/17


Picture
Picture
Picture
Picture